“Ayahmu t’lah berpulang, ibumu tak tahu dimana, begitulah getirnya fakta hidupmu… Niat tulus berbagi ringankan kisah pahitmu, kumohon sambut uluran tanganku….”,
sebuah lagu terdengar dari radio butut milik Fandy yang menemaninya saat tidur siang.
           “Dar….” suara peluru terdengar mencekam membangunkan Fandy. “Paman ada apa itu Paman? ”. Terlihat pamanku dengan wajah yang kusut.
           “Nak….. ayahmu….” kata paman,
           “Ayahku kenapa paman?” aku menyela.
           “Ayahmu tertembak Company nak, karena telah mencoba melawan”.
           “Tidaaaaaaak….. Ayah.!!!!”
Aku langsung berlari menuju tempat tanam paksa. “Ayah…. kenapa ayah tega ayah?? Kenapa kau meninggalkan aku ayah? Aku masih kecil ayah, aku belum siap menerima kenyataan pahit ini ayah, ayah… bangunlah… ayah!!!!” seruku.
           “Sudahlah nak, terima sajalah, iklaskan saja kepergian ayahmu, doakan agar mendapatkan tempat yang benar di alam sana, percayalah ayahmu selalu ada di hatimu” paman menenangkanku.
           Memang saat itu situasi di negeriku sangat kacau, penjajahan tiada henti, banyak orang tak berdosa dibunuh, termasuk ayahku.
“Tuhan… mengapa hidupku begini? Aku hidup sebatang kara, ayahku telah berpulang, dan aku ingin tau siapa dan dimana ibuku Tuhan?” renungku.
*******
Sekarang aku telah bisa merelakan kepergian ayahku dan telah mengerti dengan kpenatan ini, sejak kepergian ayahku, aku diasuh oleh pamanku. Seketika itu pamanku berubah menjadi kejam dan menguasai segala milik almarhum ayahku.
           “Fandy, mana kopi paman?” paman membentak,
           “Sabar paman saya baru mengisi air hangat,” sahutku.
           “Bueh!! Kopinya pahit sekali, dasar anak tak tau di untung lo! Sudah dihidupi, ga tau diri lo!,” paman menyemburkan kopi ke mukaku sambil membentak –bentak.
           Aku sudah tak kuat hidup seperti ini, aku ingin bertemu ibuku. Aku ingin berjuang seperti ayahku, membebaskan negeriku dari penjajahan.
           Sekarang tubuhku kurus kerempeng, jangankan makan 3 kali sehari, mengambil sisa makanan saja aku harus mengelabui pamanku. Aku tak tau mengapa sekarang pamanku begitu serakah, padahal dulu dia begitu perhatian denganku.
*******
           “ayo cepat kerja, jangan malas – malasan, cangkul tanahnya!,”
seru seorang mandor Tanam Paksa. Akupun turut serta bekerja disana untuk menggantikan pamanku, ya walau hanya dapat makanan singkong rebus, tapi lumayan untuk mengisi perutku, tapi terkadang juga aku berikan paman sebagian, walau dia mengambil semua. Aku sangat takut, cemas, disana sini terlihat bala tentara Belanda berjaga – jaga dengan sebuah bedil yang siap menembus dada siapaun yang melanggar perintah. Sudah tiga abad negeriku dijajah, entah kapan penderitaaan ini akan berakhir, entah kapan hidupku yang malang ini berakhir dan kapan ku menemukan ibuku. Seolah aku ingin mengakhiri hidup ini.
*******
           “Paman, usiaku sudah besar, aku sudah selayanknya tau….” aku berkata agak gugup.
           “Tau apa???. Tau diri kalau lo tu miskin ga punya siapa – siapa?”. Paman memotong pembicaraanku.
“Tidak paman, aku sadar aku ini sangat nista, tapi sudah selayaknya aku tau siapa ibuku dan dimana beliau?,” sambungku.
           “Ah… buat apa lo nanyain dia?, ibumu sudah dibunuh Compeny! Ibumu diperkosa oleh Comapny, mending..ya…. sekarang lo ikut paman jadi budak company, dijamin lo bakalan hidup aman, ga susah lagi ikut tanam paksa!”.
            “Tidak… tidak mungkin, ibuku tidak mungkin seperti itu paman,” mataku berkaca – kaca kamudian lari ke kamar.
           “ga mungkin…. ga mungkin… ga mungkin…. ibuku ga seperti itu…. ibuku masih hidup,” ku berkata sambil menangis tersedu.
           “aku ga mau…. aku ga akan ikuti kata paman, ga mungkin aku menurut pada pemberontak, ga mungkin aku menjadi penghianat negeri ini”.
Mukaku pucat sepucat bulam purnama. Hidupku seperti terikat, sayap – sayapku terpasung. Ada apa dengan hidupku?…
           “Bulan… setiap malam kau menerangi kegelapan ini, dan setiap malam juga aku merenung, merenung atas kebodhanku, merenung kepadamu minta petunjuk… tolong sinari jalanku, beri aku petuah untuk menyelamatkan negeri ini, sinari jalanku yang gelap agar kelak bertemu ibuku.” Aku merenung.
           Negeri ini telah hancur lebur,peperangan dimana – mana, pertumpahan darah seolah pemandangan indah yang selalu menyambut hariku..betapa tragisnya.. aku duduk dibawah pohon mangga depan rumah, disinari cahaya bulan sambil menulisi buku harianku.
           ‘Sejarah dunia adalah sejaram pemerasan, apakah tanpa pemerasan,tanpa kekerasan sejarah tidak ada?, apakah tanpa kepedihan, tanpa penghianatan sejarah tidak akan lahir?, seolah – olang bila kita membagi sejarah, maka yang kita jumpai hanyalah sebuah penghianatan. Seolah – olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup diatasnya. Yah… betapa tragisnya.. hidup adalah penderitaan, kata Budha.., dan manusia tak pernah bisa bebas dari adanya’.
Aku menulisi buku kecilku sambil menatap bulan. Terkadang aku berpikir jika dari dulu yang terjadi di dunia ini perang dan perang terus, buat apa matahari terbit menghangatkan bumi, seolah kotaku yang kelam ini sangat mencekam ketika sang fajar datang. Dan begitu mesranya menyambut sang petang. Disini ku duduk termangu berdiskusi dengan alam yang lirih, diterangi cahaya bulan yang pucat.
           ‘bagiku kesadaran sejarah adalah sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai – nilai. Memang hidup seperti ini tidak enak. Happy… is the people you got the history.. kata Dosa”
 aku melanjutkan menulis.
*******
           Sang pagi telah tiba, aku beranjak merapikan tempat tidurku dan membuka jendela.
           “Tuhan… ada apa ini? Sampai kapan kau akan menyuguhkan pemandangan pahit ini kepada kami? Setiap hari mayat bergeletakan,darah… burung – burung seolah takut menyanyi, rumputpun tak berani berdesah, seolah menantikan senyuman kebebasan,” aku merenung di pagi hari.
           “ Fan’ ayo berangkat nanti kita terlambat, jangan sampai kita menjadi korban Company berikutnya!,” seru Aldin memanggilku mengajak berangkat menuju Tanam Paksa.
            “ia sebentar ngambil cangkul dulu!,” tegasku.
Kamipun berangkat dengan memikul sebuah cangkul.
           Disepanjang perjalanan, yang ku lihat hanya penyiksaan dan penyiksaan.
           “Ampun tuan… kasihanilah saya, kakek sudah tua, beras kakeh sudah habis,kakek tidak bisa menyetor SEMBAKO hari ini,” seru seorang lelaki tua kepada seorang mandor suruhan Company.
           “Ah… brekele lo!! Makanya kerja… lo sudah ga dapat ampun lagi tua bangka!,” kata mandor itu.
           “Door!” suara pistol menembus kepala kakaek itu. Aku berhenti sejenak meyaksikan pembantaian itu,
”Tuhan… apa-apaan ini? Lihatlah, seorang asal negeri sendiri berkhianat mengabdi kepada Company demi keamanan dirinya sendiri, ya ampun…,” aku berkata dalam hati.
PENGUMUNAN,
Barang siapa yang mau mengabdi pada Company, maka hidupnya akan terjamin dan terbebas dari penyiksaan.”
Begitu sebuah reklame besar terpasang di tempat tempat umum.
           Terlihat sekerumunan orang – orang berduit mendaftarkan diri menjadi anggota pengabdi Company.
           “Yaa ampun…. apa – apaan ini?, hanya demi ketenangan hidup mereka sendiri, mereka mengorbankan kehormatan banggsa sendiri, menjadi penghianat bangsa bersatu dengan pemberontak dan menjadi orang – orang munafik, sungguh pembodohan masyarakat,”
           “Sekarang aku hidup diantara penghianat dan pemberontak…. ya….kita memang berbeda dalam semua… kecuali dalam cinta.”
           “Seakan – akan aku sebagai rakyat yang miskin yang merindukan sang ibu, lebih baik diasingkan… daripada menyerah dalam kemunafikan,” aku merenung.
           “Fan’ ayo buruan!!,” Aldin menarik tanganku.
           Di tempat kerja setiap hari ada saja orang yang meningggal tersiksa.  Dan mayatnya langsung dikubur disana. Seolah ladang ini bagaikan daratan mayat yang siap melahap siapa saja setiap detik. Benar – benar bukan kelakuan manusia.
           “Fan’ akhir – akhir ini kok gue ga pernah lihat paman lo sih?,” Wilda bertanya di bekangku sambil menanam padi.
           “Ga tau juga, semenjak kedatangan Company ke rumahku, mereka membawa pamanku dan sampai sekarang pamanku tidak datang,”sahutku.
           “Sudah dibunuh kale to paman!,” Seru Ehsan.
“Wush… ngawur lo…,” aku menyangkal.
“Tapi mungkin ada benarnya juga sih ‘Fan, lo tau kan gimana Company,” Rekta menengahi.
           “kalo emang bener dibunuh, berarti sekarang lo aman ‘Fan, kan ga da lagi yang nyiksa – nyiksa lo lagi,” sahut Wilda girang.
           “biar bagaimanapun dia pamanku, aku ga boleh durhaka, lagian dia telam neghidupiku,” tuturku.
           “alllaaah… munafik lo ‘Fan, seharusnya lo to berjuang, tunjukan jiwa pemudamu, kamu harus bisa seperti ayahmu yang rela mengorbankan nyawanya demi negeri ini,” Ehsan menyemangatiku.
           “ia kamu bener ‘San, apaun yan terjadi pada pamanku, semogaTuhan selalu mendampinginya,” sambungku.
            “yuk kerja lagi nanti kita ikut disiksa lagi!,” Aldin mengajak.
*******
 ‘Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu ku akan menaklukkan malam, aku menjalani pikiranku, sampaikanlah pada bapaku, aku mencari jalan atas semua keresahan – keresahan ini, kegelisahan manusia, da..tang..lah.. malam yang dingin, tak berhenti berjuang, pecahkan teka – teki malam, tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka – teki keadilan….’
 terlantun lagu dari radionya sambil memandangi bulan.
           “Bulan… dikala negeri ini suka, dikala negeri ini duka, mengapa seakan kau tak pedulikan itu? Kau tiada henti memancarkan cahayamu setiap malam, menerangi sudut – sudut kegelisahan ini?, seolah ku merasa kau menyimpan beribu rahsia malam, dan memberiku ribuan pertanyaan, Bulan… siapa aku? Siapa ibuku? Dan dimana dia sekarang?,” aku berkata dalam dalam lamunanku sambil menatap bulan dari jendela kamarku.
           “Grondang @#$#@$%$%” terdengar kegaduhan di dapur.
           “Paman…,”
aku terkejut dan segera menyalakan lilin kemudian menuju dapur.
“Paman…”
Paman… kau kah itu?”….
“Meaong……..,” seketika kucing melesat meloncatiku…
“Sialan… ternyata hanya kucing..,” kataku kesal
Aku kembali ke kamar, menatap bulan dan melanjutkan renunganku. Radioku terus berbicara dan tidak ku perdulikan.
*******
“Serbu!!!!!!,”…
           pagi – pagi terdengar pertikaian, masyarakat  sudah tak kuat lagi menanggung derita ini, semua kalangan bersatu menyerang Company, termasuk aku.
           “Ambil Tombaknya!”,
           “ah….”..
           “Duar..”
       pertarungan berlangsung sengit,namun memberikan hasil yang nihil, banyak warga tewas sia-sia, walaupun Tentara Company juga ada yang tewas, tapi warga kami kalah banyak, sehingga memutuskan untuk mundur.
           Jalan tikus yang awalnya dipenuhi belukar dan abu, seketika berubah menjadi jalan darah, mayat – mayat tergeletak. Dikerumunan orang aku melihat asap putih mencuat ke atas dan seketika menghilang.
           “Itu ayahmu!!!”
seseorang meneriakiku.
           “mana…manaa???,” aku takut dan heran.
           “ia itu ayah Fandy,” sahut warga yang lainnya.
           “Mana??? Aku tak melihatnya, aku tak mengerti apa maksud kalian?? Ayahku sudah berpulang 10 tahun yang lalu!,” kataku bingung dan ketakutan.
           “Sobat kecil, kau belum mengerti,” seseorang tak dikenal membisikiku.
*******
           Malam telah tiba, aku duduk di teras rumah, aku masih bingung dengen kejadian tadi siang. Kejadian itu mengingatkanku akan kedua orang tuaku,
“Ibu!!!!!!…. kau dimana ibu??, anakmu merindukan kasihmu!!!!,” aku berteriak sambil menangis.
Perlahan sangat pelan hingga tenang kan menjelang, cahaya nyali besar mencuat runtuhkan badai, disi ku berdiskusi dengan alam yang lirih, mengapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi?, aku orang malam yang membucarakan terang, aku orang tenang yang MENENTANG kemenangan oleh PEDANG,”
aku kembali menulisi buku kecilku.
           “Bulan, kenapa kau hanya membisu saja, beri tau aku rahasiamu, dimana ibuku?,” ku memandang bulan.
           “Cahaya Bulan menusukku dengan ribuan pertanyaaan, yang takkan pernah ku tau dimana jawaban itu….’aku melanjutkan menulis.
           “Bagai letusan berapi bangunkan ku dari mimpi, sudah waktunya berdiri, mencari jawaban, kegelisahan hati’. Aku menulis lagi.
*******
           “Tolong…… tolong…….,” terdengar samar – samar dari seberang jalan.
Aku segera mencari asal suara itu.
           “Siapa itu? Dimana anda?” sesekali ku memanggil.
           “Ya ampun…Ibuk… kenapa buk, kenapa bisa begini? Saya bawa ke rumah saya ya , kaki ibuk kena tembak,”
aku mengajak wanita itu ke rumah. aku tidak melihat jelas muka ibik itu.
           “Sebebtar ya buk saya ambil gunting dulu,” kataku.
           Saat aku mengobati kakinya, wanita itu meraba dadaku, yang kebetulan waktu itu aku tak memakau baju.
           “Ibuk…kenapa…kok tiba – tiba menangis?,” tanyaku bingung.
“nak… ,”
sebuah kata terucap dari bibir wanita itu.
           “Nak? Maksud ibu?,” aku bingung.
           “Kamu anakku nak, tak terasa anak ibu sudah remaja,” kata wanita itu sambil menangis dan berusaha memeluk tubuhku yang kurus.
           “Tunggu – tunggu apa maksud anda berbicara seperti itu?,” aku memotong.
           “anak ibu memiliki tanda lahir di dada kirinya dan tahi lalat tepat disebelah kiri atas pusarnya, kaulah anakku, ibu sangat merindukanmu nak!,” seru wanita itu.
Seketika itu tangisanku pecah dan memeluk wanita itu.
           “Ibu!!!… kemana saja s’lama ini bu? Aku setiap malam merindukan hangat peluk seorang ibu, disinari cahaya bulan yang membuatku gersang, dan sekarang aku bertemu ibu, jangan tinggalkan aku lagi buk,” aku memeluk ibu erat – erat.
            “maafkan ibu nak, ibu tidak ada maksud mencampakkanmu, ibu diserahkan ke Company tanpa sepengetahuan ayah oleh pamanmu nak, sekarang ibu kabur hanya untuk bertemu anakku, kamu nak,” jawab ibuku sambil menangis.
           “paman bu?… kurang hajar…..” sahutku agak marah.
           “sudahlah nak…lupakan saja, yang penting sekarang kita telah dipertemukan, bersyukurlah,dan ingat selalu doakan ayahmu,” sahut ibu menenangkanku.
           Malam ini adalah malam terindah, adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Terimakasih Tuhan…. aku akan terus berjuang, membela kebenaran, menghapus penjajahan di negeri ini.
           “Terangi dengan cinta digelapku..”
           “Ketakutan melumpuhkanku…”
           “Terangi dengan cinta di sesatku…”
           “Dimana jawaban itu……”
           “akan aku telusuri jalan yang setapak ini s’moga ku temukan jawaban,”
           “akan aku telusuri jalan yang setapak ini s’moga ku temukan jawaban,”
           “akan aku telusuri jalan yang setapak ini s’moga ku temukan jawaban,”
           “jawaban…”
       “jawaban…”
Oleh. Ida Bagus Putu Wira Kusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud